Breaking News
light_mode
Home » Opini » “Lebih Baik Jadi Petani”: Paradoks ‘Superbody’ Polri dan Cermin Retak Reformasi

“Lebih Baik Jadi Petani”: Paradoks ‘Superbody’ Polri dan Cermin Retak Reformasi

  • account_circle Rps/Red
  • calendar_month Sel, 27 Jan 2026
  • visibility 132
  • comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 27 Januari 2026| Suasana Rapat Kerja Komisi III DPR RI mendadak senyap. Di hadapan para wakil rakyat, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo tidak sedang berdiplomasi. Ia sedang menarik garis batas.

“Saya menolak polisi di bawah kementerian. Kalau itu terjadi, saya lebih baik jadi petani,” tegas Sigit.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika emosional. Ini adalah puncak gunung es dari perdebatan ketatanegaraan yang telah berumur dua dekade sejak Reformasi memisahkan Polri dari ABRI. Di satu sisi, Polri berjuang mempertahankan fleksibilitas operasional sebagai “anak kandung” Presiden. Di sisi lain, publik dan pengamat hukum melihat hantu “Superbody”—sebuah lembaga raksasa dengan kewenangan menyidik, menindak, dan mengawasi dirinya sendiri, tanpa “kakak asuh” bernama Menteri.

Jika kita berani berkaca pada dunia, posisi Polri saat ini memang sebuah anomali. Lantas, cermin mana yang retak?

Anomali di Tengah Demokrasi Modern. Ketika Jenderal Sigit berbicara tentang ketakutan akan birokrasi yang lambat, ia punya poin valid. Namun, jika kita melihat peta kepolisian global, Indonesia berdiri di posisi yang sunyi. Hampir tidak ada negara demokrasi besar yang menempatkan polisinya langsung di bawah Presiden tanpa filter kementerian atau dewan komisi.

Mari kita bercermin pada Amerika Serikat. Di sana, FBI yang legendaris itu tidak berdiri sendiri. Ia berada di bawah Department of Justice (Kementerian Kehakiman). Logikanya sederhana: penegakan hukum (polisi) harus satu napas dengan penuntutan (jaksa). Check and balances terjadi secara natural. Polisi tidak bisa seenaknya menyidik tanpa koordinasi dengan jaksa agung yang menjadi atasan administratifnya.

Bergeser ke Perancis atau tetangga dekat kita, Malaysia. Kepolisian di sana bernaung di bawah Kementerian Dalam Negeri. Menteri mengurus anggaran, SDM, dan kebijakan makro, sementara Jenderal Polisi fokus pada strategi lapangan. Di sana, polisi adalah administrator sipil bersenjata, bukan “tentara kedua”.

Sementara di Indonesia, Polri mengurus semuanya: dari SIM, penyidikan korupsi, pengamanan presiden, hingga izin keramaian, dan bertanggung jawab langsung ke Istana. Tanpa kementerian, Presiden—yang disibukkan dengan ribuan urusan negara—secara de facto menjadi satu-satunya pengawas langsung. Pertanyaannya: Mampukah satu orang Presiden mengawasi 400.000 personel polisi?

Momok “Matahari Kembar”
Argumen Kapolri bukannya tanpa dasar. Trauma sejarah dan kultur birokrasi Indonesia yang berbelit menjadi alasan kuat penolakannya.

Sigit khawatir akan munculnya “Matahari Kembar”. Jika Polri di bawah Kementerian (misalnya Kemendagri), siapa yang memegang komando saat kerusuhan pecah? Menteri atau Kapolri? Di Indonesia, di mana ego sektoral antar-lembaga masih tinggi, dua kapten dalam satu kapal bisa berarti kapal karam.

Kapolri menginginkan kecepatan. Dalam situasi genting, garis komando “Presiden ke Kapolri” adalah jalur tercepat. Memasukkan kementerian di antaranya dianggap hanya akan menambah meja birokrasi yang harus dilewati surat perintah sebelum pasukan bergerak.

Jalan Tengah: Berkaca pada Jepang?

Namun, menolak kementerian bukan berarti harus memeluk status quo selamanya. Jika model “Kementerian” dianggap terlalu birokratis dan politis, dan model “Langsung Presiden” dianggap terlalu powerfull, Indonesia bisa melirik cermin ketiga: Jepang.

Di Negeri Sakura, National Police Agency (NPA) tidak di bawah menteri, tapi diawasi oleh National Public Safety Commission. Ini adalah badan independen yang berada di lingkup kabinet. Tujuannya elegan: memisahkan polisi dari intervensi politik praktis (agar tidak jadi alat kekuasaan) sekaligus memastikan polisi tidak menjadi monster tanpa pengawas.

Epilog: Menjaga Marwah, Bukan Hanya Kekuasaan
Penolakan keras Jenderal Sigit hari ini harus dibaca sebagai sinyal bahaya. Bukan hanya tentang penolakan struktur baru, tapi peringatan bahwa sistem birokrasi kementerian di Indonesia mungkin belum cukup “dewasa” untuk menampung lembaga sestrategis Polri tanpa mengorbankan keamanan negara.

Namun, membiarkan Polri terus menjadi Superbody tanpa pengawasan eksternal yang kuat juga menyimpan bom waktu. Cermin dari negara lain menunjukkan bahwa power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.

Pilihannya kini ada di tangan pembuat undang-undang: Apakah kita akan memaksa Polri masuk ke “kandang” kementerian dengan risiko lamban bergerak, atau kita menciptakan sistem pengawasan baru yang lebih fair—sebuah jalan tengah di mana Jenderal Sigit tidak perlu beralih profesi menjadi petani, namun rakyat tetap bisa tidur nyenyak tanpa takut pada arogansi aparat.[]

Komentar (0)

At the moment there is no comment

Please write your comment

Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) are required

Rekomendasi Untuk Anda

  • 1,2 Juta Ha Hutan Jabar Lenyap: Jejak Perusahaan Kayu di Bogor Raya Wajib Diusut

    • calendar_month Kam, 4 Des 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 72
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Bogor Raya, 4 Desember 2025| Hilangnya 1,2 juta hektare (Ha) kawasan hutan lindung di Jawa Barat, dari total 1,6 juta Ha, kini menempatkan provinsi padat penduduk ini di ambang krisis lingkungan, Data mengejutkan yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, pada Rabu (3/12), menegaskan adanya degradasi masif yang hanya menyisakan 400.000 Ha hutan sebagai […]

  • Ibu Suki Harti, Kakak Kandung Istri Agung Sulistio, Berpulang ke Rahmatullah

    • calendar_month Kam, 18 Des 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 171
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Pemalang, 18 Desember 2025| Kabar duka menyelimuti keluarga besar Agung Sulistio. Ibu Suki Harti, kakak kandung dari istri Agung Sulistio, telah berpulang ke rahmatullah pada Kamis, 18 Desember 2025, dalam usia 57 tahun. Kepergian almarhumah meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, serta seluruh pihak yang mengenal beliau. Semasa hidupnya, almarhumah dikenal sebagai sosok pribadi yang […]

  • Proyek Paving Block di Pamarayan CV Karaton Mega Diduga Asal Dikerjakan, Tanpa Pengawasan Ahli!

    • calendar_month Rab, 17 Sep 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 98
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Pamarayan, Kabupaten Serang (GMOCT) 17 September 2025| Proyek pemasangan paving block di Kampung Cinangerang, Desa Pasir Limus, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, menjadi sorotan. Pasalnya, proyek yang dikerjakan oleh lima orang warga sekitar yang bukan ahli di bidangnya ini, diduga tanpa pengawasan dari tenaga ahli. Rabu (17/9/2025). Proyek yang bersumber dari dana APBD Provinsi Banten tahun […]

  • Ketika Pengayom Menjadi Pengancam: Kisah Kelam Saya Bersama Polisi Arogan

    • calendar_month Jum, 5 Des 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 460
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Sumatera Selatan, 5 Desember 2025|Saya, Fidiel Castro, seorang wartawan yang bertugas di Kabupaten Ogan Ilir dan berdomisili di Kelurahan Tanjung Raja, pernah mengalami sendiri tindakan arogan dari seorang polisi bernama Rahmat, yang saat itu menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Tanjung Raja. Apa yang saya alami bukan sekadar ketidakadilan, melainkan sebuah pengalaman penuh intimidasi yang hampir […]

  • Diduga Palsukan Surat PT. APN, LSM Gakorpan Riau Lapor ke Mabes Polri

    • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 187
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Pekanbaru, Riau, 17 November 2025| Dugaan pemalsuan surat PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) di Desa Sungai Rambai dan Desa IV Koto Setingkai, Kec. Kampar Kiri, Kab. Kampar, Riau, akhirnya dilaporkan Ketua LSM Gerakan Anti Korupsi dan Penyelamatan Aset Negara (Gakorpan) DPD Prov. Riau, Rahmad Panggabean ke Mabes Polri di Jakarta, pada Rabu (12/11/2025). Kepada Awak […]

  • Jacob Ereste: Spiritualitas Dalam Kepemimpinan, Gagasan, Pemikiran Serta Tindakan BJ. Habibie

    • calendar_month Jum, 30 Mei 2025
    • account_circle Tim/Red
    • visibility 105
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id–Jakarta| Nilai-nilai spiritualitas dalam kepemimpinan sosok Burhanuddin Jusuf Habibie dikenal sangat taat mengikuti tuntunan dan ajaran agama. Ia rajin sholat dan membaca Al Qur’an. Presiden Indonesia ke tiga ini selalu meyakinkan bahwa ilmu dan teknologi tidak boleh terpisah dari nilai-nilai ketuhanan dan moralitas. Ketika menjabat Presiden Indonesia di masa krisis dan kacau, ia meyakini bahwa […]

expand_less