Breaking News
light_mode
Home » Nasional » Info Daerah » Peringatan Keras LSM Frontal: Salah Urus Kawasan Ciremai Bisa Berujung Banjir Bandang dan Korban Jiwa

Peringatan Keras LSM Frontal: Salah Urus Kawasan Ciremai Bisa Berujung Banjir Bandang dan Korban Jiwa

  • account_circle Rls/Red
  • calendar_month Sen, 29 Des 2025
  • visibility 46
  • comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Kuningan, 29 Desember 2025| Rentetan bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Sumatera pada akhir November 2025, kembali membuka fakta pahit lemahnya pengelolaan lingkungan hidup. Ribuan korban jiwa jatuh bukan semata akibat fenomena alam, melainkan akibat akumulasi kebijakan salah kaprah yang membiarkan kerusakan hutan dan daerah resapan berlangsung masif selama bertahun-tahun.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Selasa malam, 16 Desember 2025, mencatat sedikitnya 1.050 orang meninggal dunia akibat banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Tragedi ini terjadi di tengah maraknya izin pembukaan hutan untuk perkebunan sawit, pertambangan, dan berbagai kepentingan usaha lain yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

Ironisnya, langkah penegakan hukum baru dilakukan setelah bencana terjadi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyegel sejumlah perusahaan perkebunan sawit di Sumatera Utara, termasuk PT Tri Bahtera Srikandi di Tapanuli Tengah, yang diduga membabat hutan hingga memicu hantaman material kayu ke permukiman warga. Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan bahkan mengidentifikasi 31 perusahaan dan pengusaha yang dinilai berkontribusi memperparah banjir bandang. Namun, langkah ini dinilai terlambat dan reaktif.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mencatat, sepanjang 2016–2025, sekitar 1,4 juta hektare hutan di Sumatera hilang, beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, tambang, dan usaha lainnya. Luas kebun sawit di Sumatera kini mencapai 10,7 juta hektare, sementara hutan tersisa hanya 6,7 juta hektare, jauh melampaui batas aman ekologis pulau tersebut.

Sistem monokultur sawit terbukti tidak mampu menahan tanah saat hujan ekstrem, sehingga banjir dan longsor menjadi ancaman permanen.
Pemerintah kerap menyederhanakan penyebab bencana dengan menyalahkan faktor cuaca ekstrem, seperti Siklon Tropis Senyar. Padahal, fenomena tersebut berkaitan erat dengan krisis iklim global akibat peningkatan suhu permukaan laut yang dipicu emisi gas rumah kaca.

Pemanasan laut di Selat Malaka dan Samudra Hindia memperbesar potensi hujan ekstrem, sementara kerusakan hutan menghilangkan fungsi alami penahan air dan pengikat tanah.

Dampak krisis iklim tidak hanya dirasakan di Sumatera. Banjir rob juga semakin parah di pesisir Pulau Jawa. Di Jakarta Utara, rob setinggi 40 sentimeter merendam Jalan R.E. Martadinata hingga depan Jakarta International Stadium. Sementara di Desa Timbulsloko, Kabupaten Demak, air pasang mencapai 1,5 meter, menenggelamkan permukiman warga. Fenomena ini mempertegas bahwa adaptasi semu yang mengabaikan logika alam hanya memindahkan risiko, bukan menguranginya.

Kondisi serupa kini mulai dirasakan di Jawa Barat. Banjir besar melanda Kabupaten dan Kota Cirebon pada Selasa (23/12/2025) malam. Luapan sungai merendam pusat perbelanjaan, perkantoran pemerintah, hingga gudang logistik sebuah supermarket besar dengan ketinggian air lebih dari satu meter. Warga menilai banjir kali ini tidak biasa karena datang mendadak dengan volume air sangat besar, sehingga muncul dugaan kuat adanya air kiriman dari wilayah hulu, Kabupaten Kuningan. Wilayah hulu Gunung Ciremai yang berada dalam pengelolaan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) disorot publik. Penyusutan daerah resapan, maraknya eksploitasi air, serta pembangunan di kawasan penyangga (buffer zone) dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya limpasan air ke wilayah Cirebon.

Atas kondisi tersebut, LSM Frontal melalui ketuanya, Uha Juhana, menyampaikan peringatan keras kepada Muspida Kabupaten Kuningan. Ia menegaskan bahwa kelalaian yang disengaja dalam pengelolaan kawasan konservasi berpotensi memicu bencana banjir bandang dan longsor yang dapat merenggut korban jiwa di masa mendatang.

“Bencana tidak datang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari kebijakan yang mengabaikan keseimbangan alam. Jika peringatan ini diabaikan, maka bencana berikutnya bukan lagi soal ‘jika’, tetapi soal ‘kapan’,” tegas Uha.[]

  • Author: Rls/Red
  • Editor: Redaksi
  • Source: UJ

Komentar (0)

At the moment there is no comment

Please write your comment

Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) are required

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puluhan Pejabat Pemkot Bogor Dilantik, Dedie A Rachim, Tekankan Loyalitas dan Kerja Nyata Pelayanan Publik

    • calendar_month Rab, 11 Feb 2026
    • account_circle AG
    • visibility 48
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Kota Bogor, 11 Februari 2026| Pemerintah Kota Bogor melaksanakan pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan bagi pejabat pimpinan tinggi pratama, administrator, pengawas, pejabat fungsional, kepala sekolah hingga kepala puskesmas di jajaran pemerintahan. Prosesi digelar di Plaza Balaikota Bogor, Jalan Ir. H. Juanda No.10, Kelurahan Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah, Rabu pagi (11/02/2026) pukul 07.30 WIB. Sebanyak 75 […]

  • Khidmat, Upacara Bendera Senin Pagi di Kodim 0509 Kabupaten Bekasi

    • calendar_month Sen, 8 Sep 2025
    • account_circle HUSEN
    • visibility 236
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id – Kabupaten Bekasi, 08 Sept 2025– Kodim 0509/Kabupaten Bekasi melaksanakan upacara pengibaran bendera Merah Putih pada Senin pagi (8/9) di lapangan Makodim 0509, Komplek Perkantoran Pemda Kabupaten Bekasi, Desa Sukamahi, Cikarang Pusat.   Upacara dimulai pukul 07.00 WIB dan berakhir pukul 07.36 WIB. Mayor Inf Terusno, Danramil Serang Baru, bertindak sebagai Inspektur Upacara. Sementara […]

  • Buni Yani: Jokowi Terkunci Mati Pasar Pramuka, Gibran Menunggu Ajal Politik

    • calendar_month Sen, 30 Jun 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 374
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Jakarta| Lonceng kematian Jokowi semakin kencang berdentang yang sekaligus mengantarkan kiamat politik bagi Gibran. Kematian baik dalam arti kiasan maupun harfiah memang sedang berlangsung sekarang. Secara kiasan, kematian itu merujuk pada semakin terkuncinya gerak Jokowi dalam kasus ijazah palsu. Sedangkan secara harfiah, kematian itu berarti semakin parahnya penyakit kulit Jokowi yang tidak menutup kemungkinan semakin […]

  • Viral Syal Polwan Dicoret Saat Demo, Klarifikasi Polisi Ungkap Pakta Berbeda

    • calendar_month Ming, 1 Mar 2026
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 16
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Jakarta, 1 Maret 2026| Viral di media sosial, sebuah video memperlihatkan seorang mahasiswi mencoret kain putih yang dikenakan seorang polisi wanita (Polwan) saat aksi unjuk rasa di depan Mabes Polri, Jakarta. Video tersebut diunggah oleh akun Kombes Pol Manang Soebeti dan disertai narasi voice over yang menyebut, “Selembar sorban ini selalu kupakai dengan bangga.” Dalam […]

  • Dugaan Korupsi Dana Desa Padarek: Kades (Ketua PAC PDIP Lemahsugih) Diduga Tak Transparan dan Menawarkan Suap ke Media

    • calendar_month Sel, 1 Jul 2025
    • account_circle Tim/Red
    • visibility 109
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Majalengka, Jawa Barat (GMOCT) 01 Juli 2025| Dugaan penyimpangan penggunaan Dana Desa (DD) tahap 1 tahun 2025 di Desa Padarek, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka, menyeruak ke permukaan. Kepala Desa Padarek, Wahyu Susanto, yang menurut informasi juga menjabat sebagai Ketua PAC PDIP Lemahsugih periode 2019-2024 hingga kini masih menjabat menurut Nara sumber, menjadi sorotan utama. Dari […]

  • Tokoh Jawa Barat Abah Anton Charlian: Masyarakat Diminta Waspada Terhadap Provokasi Yang Mengancam Persatuan Bangsa

    • calendar_month Sen, 1 Sep 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 75
    • 0Comment

    Tegarnews.co.idBandung,1 September 2025| Situasi politik nasional yang kian mengkhawatirkan mendorong Tokoh Jawa Barat, Irjen Pol (Purn) Anton Charlian, atau akrab disapa Abah Anton, menginisiasi pertemuan mendadak dengan sejumlah tokoh masyarakat pada Minggu (31/8/2025). Pertemuan berlangsung di kediamannya, Jalan Parakan Asri No. 8, Bandung, sebagai upaya merespons dinamika unjuk rasa yang akhir-akhir ini menelan korban dari […]

expand_less