Tegarnews.co.id – Jakarta, 30 Agustus 2026 | Sehari setelah membuat surat pernyataan atas nama DPR RI, yang isinya DPR akan mengesahkan RUU perampasan aset pada 15 Desember 2026, Dasco memposting kata-kata mutiara yang indah, tapi faktanya hanya bualan penuh rekayasa, kepanikan dan banyak manipulasi.
“Tidak ada jabatan yang lebih tinggi dari pada amanah menjaga persatuan Indonesia”, katanya. Manuver Dasco ini sudah dapat kita baca sejak awal, sebelum demonstran Pati sampai ke DPR RI.
Semua rentetan peristiwa sejak pemblokiran rekening aktivis Pati, sebenarnya siapa dibelakang perintah polisi untuk memblokir rekening itu?! Pasti orang kuat, dia adalah Perdana Menteri yang menyamar wakil ketua DPR RI.
Pemblokiran rekening gagal total, malah meningkatkan simpati masal, menjadi narasi nasional. Langkah kedua adalah meneror para pemilik bis, bahkan setelah rombongan berhasil melakukan perjalanan diteror juga di tol. Ada yang melempari bis dengan batu.
Maka jurus terakhir adalah mempercepat dil-dil dengan koordinator demo sebelum masa susulan masuk Jakarta, Andre Rosiade menemui demonstran diluar pagar, Dasco melakukan kesepakatan didalam ruang sidang. Jangan heran didalam atau diluar gedung parlemen yang bergerak cepat hanya orang Gerindra, pun dalam surat pernyataan pun, hanya wakil ketua yang berani pasang badan. Padahal puan sebagai ketua juga sedang di DPR.
Inilah kepanikan dari Gerindra, dan apapun solusinya akan diambil untuk segera menekan agar demo cepat bubar. Karena Gerindra paham mayoritas rakyat tidak puas dengan kinerja pemerintahan Prabowo. Popularitas anjlok, kepuasan terhadap program pemerintah ancur. Kalau gerinda tidak gerak cepat pasti rakyat tanpa di koordinasi akan bergabung dan membuat demo besar di seluruh tanah air tidak akan terbendung.
Bukan hanya Budi Arie, bukan hanya simpatisan Jokowi yang berkeyakinan pemerintahan Prabowo tidak akan sampai 2029, rakyat awampun sama, berkeyakinan seperti itu, hanya dengan melihat RAPBN, Program-program jadul Prabowo, pengetatan Pajak, kekacauan desil pasca sensus BPS, dan ekonomi masyarakat yang stagnan yang menyebabkan kelas menengan turun, kelas bawah makin kesulitan.
Ketika rombongan Pati berhasil dipulangkan Dasco, dan saya tidak yakin kepulangan itu hanya karena surat pernyataan DPR saja tanpa dil-dil pemanis yang lain, beberapa rombongan pendemo yang terutama “dimobilisasi ojol”, bergerak anarkis. Ini diluar kendali Dasco, ini diluar kendali polisi. Anarkisme masa dilawan anarkisme aparat jika memakan korban, kemarahan rakyat bakal lebih berat dari peristiwa pendemo yang tergilas mobil rantis brimob pada Agustus 2026.
Maka yang bergerak, seperti di banyak video, adalah Grib Jaya, sebuah ormas, baik setelah berdiri resmi dengan badan hukum maupun sejak embrio, adalah anak asuh Prabowo. Diluar hierarki formal. Dan tentu saja, dari awal upaya penghadangan rombongan Pati sejak masih di Pati, sampai penghadangan demo dilanjutkan oleh Grib Jaya, Perdana Menteri yang menyamar jadi Wakil Ketua DPR ada dibaliknya.
Selain Hercules, Grib Jaya, Prabowo dan Don Dasco harus bertanggung jawab atas meninggalnya almarhum, karena mereka semua ada dibalik berbagai opsi skenario itu. Apesnya sekenenario terakhir memakan korban.
Maka siasat apalagi dan jurus mana yang akan dikeluarkan oleh Don Dasco. Dugaaan saya, jurusnya memaksimalkan santunan dan propaganda simpati terhadap keluarga korban.
Metoda politik Dasco senyap dan dingin seperti Jokowi, jika Jokowi menurut pembencinya jahat, maka Dasco lebih jahat.(Rls/Red)













