AS Tiba-Tiba Tarik Rem Siap Menyerang Iran! Ada Apa di Balik Gedung Putih?
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 0 menit yang lalu
- comment 0 komentar

Tegarnews.co.id-Jakarta, 10 Februari 2026| Washington, D.C – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran sempat membuat dunia menahan napas. Opsi serangan militer terbuka lebar, kesiapan tempur disebut berada pada level tinggi, namun pada akhirnya Washington memilih menginjak pedal rem. Keputusan ini memunculkan satu pertanyaan besar: mengapa negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia justru menahan diri?
Sejumlah analis pertahanan dan geopolitik menilai, keputusan ini bukan soal keberanian atau ketakutan, melainkan soal perhitungan strategis yang sangat rasional. Di balik pintu Gedung Putih, pertimbangan yang dipakai bukan emosi, melainkan apa yang kerap disebut sebagai “matematika perang”.
Pertama, faktor biaya menjadi beban utama. Konflik terbuka dengan Iran hampir pasti berdampak langsung pada Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Gangguan kecil saja berpotensi mendorong lonjakan harga energi global. Bagi Amerika Serikat, efek domino berupa inflasi, tekanan ekonomi domestik, dan ketidakstabilan pasar justru bisa menjadi kerugian yang lebih besar dibanding keuntungan militer.
Kedua, peluang kemenangan cepat dinilai sangat kecil. Iran bukan Irak atau Afghanistan. Negara ini memiliki kontur geografis yang sulit, jaringan pertahanan berlapis, serta kemampuan rudal yang telah teruji.
Banyak pengamat militer memperingatkan bahwa operasi militer terhadap Iran berisiko tinggi menyeret Amerika Serikat ke konflik berkepanjangan, dengan korban personel dan kerugian alutsista yang tidak sebanding dengan hasil politik yang ingin dicapai.
Ketiga, ada pertimbangan strategis jangka panjang. Serangan langsung justru berpotensi memperkuat sentimen anti-Amerika di Timur Tengah dan menyatukan faksi-faksi yang selama ini terpecah. Dalam kalkulasi ini, diplomasi, tekanan politik, dan sanksi ekonomi dipandang sebagai instrumen yang lebih murah, lebih terkontrol, dan tetap memberikan efek tekanan terhadap Teheran tanpa memicu perang terbuka.
Keputusan Washington untuk menahan serangan menunjukkan satu hal penting: dalam perang modern, kekuatan militer saja tidak cukup. Stabilitas ekonomi, opini global, dan risiko jangka panjang kini menjadi variabel utama dalam setiap keputusan strategis. Dunia boleh saja melihat ini sebagai langkah mundur, tetapi bagi para perancang kebijakan, ini justru bentuk disiplin strategis.[]
- Penulis: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Sumber: Hagia Sofia



Saat ini belum ada komentar