Breaking News
light_mode
Home » Peristiwa » Demi Raport Bagus, Penyidik Jadikan Papaku Tersangka Pembunuhan Mamaku

Demi Raport Bagus, Penyidik Jadikan Papaku Tersangka Pembunuhan Mamaku

  • account_circle Rls/Red
  • calendar_month Sel, 9 Des 2025
  • visibility 371
  • comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 9 Desember 2025| Tiga puluh lima tahun silam, tepatnya Rabu, 10 Januari 1990, sebuah tragedi besar menimpa keluarga kami di Medan, Sumatera Utara. Peristiwa itu bukan hanya merenggut nyawa ibu kami, tetapi juga mengubah seluruh jalan hidupku dan tujuh saudara kandungku. Hingga kini, kenangan pahit itu masih melekat kuat, menjadi luka sekaligus pelajaran tentang betapa rapuhnya keadilan ketika aparat lebih mementingkan prestasi daripada kebenaran.

Papa dan mama, yang akrab disapa Robi dan Hera, dikenal sebagai pasangan harmonis. Mereka sering mengajak kami berkunjung ke keluarga besar, membangun suasana hangat yang membuat rumah selalu penuh tawa. Aku adalah anak keempat dari delapan bersaudara. Kakak sulungku laki-laki, sementara mayoritas saudara lainnya perempuan. Saat tragedi itu terjadi, aku masih duduk di kelas enam SD, sedangkan adik bungsu kami, Gio, baru berusia empat tahun.

Seperti biasa, setiap pagi sebelum pukul tujuh, mama mengantar kami ke sekolah dengan mobil Kijang Super. Namun pagi itu berbeda. Kami menunggu di bawah, tetapi hingga pukul tujuh, papa dan mama belum turun dari kamar mereka di lantai dua. Rasa cemas mulai muncul. Aku teringat percakapan mama lewat telepon semalam, suaranya terdengar panik dan ketakutan. Pikiran buruk pun menghantui.

Aku memberanikan diri naik ke atas dan mengetuk pintu kamar. Tidak ada jawaban. Aku mendorong pintu, namun tubuh kecilku tak mampu membukanya. Melalui celah pintu, aku mengintip dan terkejut melihat papa dan mama terbaring di kasur, bersimbah darah. Panik, aku berteriak memanggil abangku Rudi, yang saat itu duduk di kelas tiga SMP. Ia memanjat dari luar rumah, berhasil masuk, dan membuka pintu kamar.

Pemandangan di depan mata sungguh mengerikan. Papa dan mama terkapar berdampingan, berlumuran darah. Sebilah pisau menancap di tubuh papa, sementara tangan mama masih menggenggam pisau itu. Bagi pikiranku yang masih kanak-kanak, posisi itu jelas janggal. Bagaimana mungkin dikatakan mereka berkelahi, sementara tubuh mereka terbaring berdampingan seperti orang tidur?

Tak lama kemudian, tetangga berdatangan, lalu polisi dari Polrestabes Medan tiba untuk mengamankan TKP. Berita pun segera heboh di surat kabar. Mama dikabarkan ditikam 19 kali, sementara papa 23 kali. Mama meninggal di tempat, sedangkan papa masih bernapas dan segera dibawa ke RS Brimob.

Setelah pemakaman mama, kami anak-anak hanya bisa berdoa agar papa selamat. Doa itu dijawab: setelah hampir sebulan dirawat, papa akhirnya pulih. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Polisi tiba-tiba menetapkan papa sebagai tersangka pembunuhan. Media menulis, “Seorang Pengusaha Kelapa Sawit Membunuh Istrinya.”

Memang benar papa memiliki kebun sawit di Binjai, tetapi tuduhan itu terasa mustahil. Bagaimana mungkin seseorang menikam istrinya 19 kali, lalu menusuk dirinya sendiri 23 kali? Secara logika, satu tusukan saja sudah cukup melemahkan tubuh.

Meski penuh kejanggalan, penyidik tetap melanjutkan perkara. Jaksa menerima Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan kasus pun dilimpahkan ke pengadilan. Aku tidak tahu isi BAP itu, tetapi hatiku menolak percaya papa sanggup melakukan hal keji tersebut. Namun proses hukum berjalan, dan papa dijatuhi hukuman lima tahun penjara.

Saat itu aku mulai beranjak remaja, duduk di bangku SMP. Kehilangan orang tua membuatku bergaul bebas, bertemu banyak orang dewasa. Dari salah satu teman, aku mendengar kabar mengejutkan: pelaku sebenarnya adalah seorang pria bernama Rolan, pekerja di kebun sawit papa. Informasi itu sejalan dengan firasatku sejak awal, bahwa papa bukanlah pelaku.

Aku memberanikan diri mengunjungi papa di Lapas Tanjung Gusta. Dengan gaya seperti detektif, aku ingin tahu kebenaran. Papa yang kutemui sudah berubah: ia berhenti merokok, kini selalu memegang Alkitab. Dengan lembut, papa mengakui bahwa Rolanlah pelaku sebenarnya. Namun ia berpesan agar aku tidak menyimpan dendam. Menurutnya, semua ini adalah takdir, dan yang terpenting adalah belajar memaafkan.

Pesan itu membuatku semakin heran. Mengapa polisi begitu mudah menuduh papa? Bukti di TKP jelas tidak mendukung tuduhan itu. Tetapi rupanya, bagi sebagian penyidik, yang penting adalah laporan keberhasilan. Kasus yang cepat selesai dianggap prestasi, menjadi jalan pintas untuk kenaikan pangkat. Kebenaran dan keadilan dikorbankan demi citra.

Kini, setelah aku menjadi jurnalis, aku semakin memahami pola itu. Banyak kasus yang direkayasa, demi menunjukkan “keberhasilan” aparat. Ironisnya, mereka yang melakukan manipulasi justru dianggap berprestasi. Sementara korban seperti papa, yang kehilangan istri dan harus menanggung fitnah, hanya bisa pasrah mendekam di penjara.

Tragedi keluarga kami adalah bukti nyata betapa berbahayanya sistem yang lebih mementingkan citra daripada kebenaran. Papa bukan hanya kehilangan pasangan hidup, tetapi juga martabatnya sebagai manusia. Kami anak-anak kehilangan figur orang tua, dan harus tumbuh dengan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.[]

*Note: Tulisan ini dibuat sebagai pengingat kematian Ibundaku yang pada hari ini, 8 Desember 2025, andai masih hidup, berulang tahun ke-73. RIP mamaku tersayang.[]

Penulis adalah jurnalis di Papua, peserta lomba menulis bertema “Pengalaman Buruk dengan Polisi Indonesia”.

*Lomba ini masih dibuka hingga 15 Desember 2025. Informasi lengkap di sini: https://bit.ly/4opwDVZ*

  • Author: Rls/Red
  • Editor: Redaksi
  • Source: Tim/Red

Komentar (0)

At the moment there is no comment

Please write your comment

Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) are required

Rekomendasi Untuk Anda

  • Audiensi Wali Kota Bekasi, Menteri Nusron Tekankan Kerja Sama untuk Percepat Sertipikasi Aset Pemkot

    • calendar_month Kam, 26 Jun 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 104
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-JakartaI Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menerima audiensi Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono bersama jajarannya pada Selasa (24/06/2025). Dalam pertemuan ini, Menteri Nusron menekankan bahwa percepatan sertipikasi aset milik Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi dapat terlaksana bila terjalin kerja sama aktif dari kedua pihak. “Pemkot Bekasi mohon dilengkapi surat-suratnya […]

  • Gercep Tim SAR Sat-Brimob Polda Jabar “Enam Korban Longsor di Cisempur Berhasil Dievakuasi.”

    • calendar_month Sen, 5 Jan 2026
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 178
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Jawa Barat, 5 Januari 2026| Tim SAR Satbrimob Polda Jawa Barat menunjukkan respons cepat dan profesional dalam menangani bencana tanah longsor yang terjadi di wilayah Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Minggu (4/1/2026), kemarin. Tim SAR Satbrimob Polda Jabar segera bergerak ke lokasi setelah menerima laporan adanya longsor pada sebuah tebing. Peristiwa tersebut menimpa enam […]

  • MPR DPR RI: Lembaga Yatim Piatu Yang Mengaku Wakil Rakyat?

    • calendar_month Rab, 12 Nov 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 138
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Jakarta, 12 November 2025| Dalam tatanan filsafat politik, setiap lembaga negara ibarat anak kandung dari rahim konstitusi. Ia lahir melalui proses konsepsi yang sah, disahkan oleh kesadaran kolektif bangsa, dan tumbuh dalam sistem nilai yang disepakati bersama. Namun, bagaimana bila ada lembaga yang tidak memiliki akta kelahiran konstitusional, tidak diketahui siapa ayah-ibu hukum yang melahirkannya, […]

  • Oknum Anggota Polsek Leles Garut Diduga Terima Upeti dari Mafia Obat Keras Jenis G

    • calendar_month Sab, 2 Agu 2025
    • account_circle Tim/Red
    • visibility 89
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Garut 2 Agustus 2025| Dugaan praktik suap terkait peredaran obat keras golongan G di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, menguak. Oknum anggota Polsek Leles diduga menerima uang koordinasi dari pemilik toko yang menjual obat-obatan terlarang tersebut. Informasi ini diperoleh dari investigasi Gabungan Media Online dan Cetak Ternama (GMOCT), yang didukung oleh laporan dari media online Katatribun.id. […]

  • Tingkatkan Kinerja, Komisi III DPR RI Setuju Usulan Penambahan Anggaran di Kejaksaan

    • calendar_month Rab, 21 Jan 2026
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 156
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Jakarta, 22 Januari 2026| Komisi III DPR mendukung usulan peningkatan kesejahteraan jaksa melalui penguatan dukungan anggaran guna mendorong peningkatan kinerja Kejaksaan RI. Hal tersebut dikatakan anggota Komisi III DPR RI Muhammad Nasir Djamil saat membacakan kesimpulan rapat kerja antara Jaksa Agung RI dan para Kepala Kejaksaan Tinggi se-Indonesia bersama Komisi III DPR RI di Gedung […]

  • RSUD Cut Nyak Dien Meulaboh: AC Mati, Pasien Sesak Napas, dan Tuduhan Minimnya Fasilitas

    • calendar_month Sab, 3 Mei 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 159
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Meulaboh, Aceh Barat (GMOCT) Sabtu, 03 Mei 2025| Keluhan terkait buruknya fasilitas dan pelayanan di RSUD Cut Nyak Dien Meulaboh kembali mencuat. Informasi yang diperoleh dari media online Bongkarperkara, anggota Gabungan Media Online dan Cetak Ternama (GMOCT), menyebutkan bahwa sejumlah pasien dan keluarga pasien mengeluhkan kondisi ruangan yang tidak layak, khususnya terkait dengan kerusakan AC […]

expand_less