Kritik Klaim Bahagia Prabowo, Denny Charter: Rakyat Hanya Adaptasi Penderitaan
- account_circle Rls/Red
- calendar_month Sab, 24 Jan 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar

Foto: Ilustrasi Warga Indonesia Bahagia ditengah kemiskinan (dok. Istimewa)
Tegarnews.co.id–Jakarta, 25 Januari 2026| Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam forum World Economic Forum (WEF) yang menyebut Indonesia sebagai salah satu bangsa paling bahagia di dunia memicu diskusi kritis di dalam negeri. Di balik angka kebahagiaan yang tinggi, muncul analisis tajam yang menyebut fenomena ini bukanlah keberhasilan ekonomi, melainkan “mekanisme pertahanan diri” masyarakat terhadap kemiskinan struktural.
Pidato Prabowo di Forum Global: Indonesia Bangsa Bahagia
Dalam pidatonya di forum internasional tersebut, Prabowo Subianto dengan percaya diri memaparkan optimisme mengenai kondisi psikososial masyarakat Indonesia. Ia menekankan bahwa meskipun menghadapi berbagai tantangan ekonomi global, rakyat Indonesia memiliki indeks kebahagiaan yang luar biasa.
”Indonesia adalah salah satu negara paling bahagia di dunia. Jika Anda melihat survei-survei terbaru, masyarakat kami memiliki optimisme yang tinggi,” ujar Prabowo, merujuk pada beberapa data indeks kebahagiaan global yang menempatkan Indonesia di peringkat atas. Pernyataan ini bertujuan untuk membangun citra positif Indonesia sebagai negara dengan stabilitas sosial yang kuat di mata investor dan pemimpin dunia.
Bantahan Denny Charter: Bahagia Akibat “Resiliensi Toksik”
Namun, narasi tersebut mendapat tanggapan kritis dari Wakil Ketua Umum Pimpinan Nasional Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Denny Charter. Melalui analisis mendalam yang viral di media sosial, Denny membedah bahwa ada jurang logika antara data subjektif kebahagiaan (seperti Global Flourishing Study dari Harvard) dengan data objektif kemiskinan (World Bank).
Denny Charter memperkenalkan hipotesa mengejutkan yang ia sebut sebagai “State-Sponsored Toxic Positivity” atau Positivitas Beracun yang Disponsori Negara. Menurutnya, tingginya angka kebahagiaan di Indonesia bukanlah indikator keberhasilan pembangunan, melainkan sebuah mekanisme pertahanan psikologis (defense mechanism) rakyat akibat absennya peran negara.
”Masyarakat Indonesia memiliki kemampuan adaptasi terhadap penderitaan (suffering adaptation) tertinggi di dunia. Ini adalah sindiran keras bagi pemerintah. Indonesia adalah negara di mana warganya terpaksa bahagia karena tidak punya pilihan lain,” tulis Denny dalam analisisnya.
Tiga Poin Utama Kritik Denny Charter:
1. Solidaritas sebagai Pengganti Jaminan Sosial: Denny menyebut kentalnya hubungan sosial di Indonesia (budaya mangan ora mangan asal kumpul) muncul karena kegagalan sistem jaminan sosial seperti BPJS atau bansos yang sering salah sasaran. Rakyat menjadi jaring pengaman bagi satu sama lain karena negara tidak hadir secara maksimal.
2. Budaya “Nrimo” yang Disalahgunakan: Narasi spiritual seperti “syukuri apa yang ada” dan “harta tidak dibawa mati” dinilai Denny sering dipelihara secara sistematis agar pemerintah tidak perlu menaikkan standar upah minimum secara signifikan. Kemiskinan struktural dibranding ulang sebagai “ujian kesabaran” atau pencapaian spiritual, bukan kegagalan manajerial negara.
3. Bias Adaptif (Adaptive Preference): Denny mengibaratkan kondisi ini dengan teori ekonomi perilaku: ketika rakyat tidak mampu meraih kesejahteraan (anggur yang tinggi), otak mereka melakukan kalibrasi ulang dan memutuskan bahwa standar bahagia cukup hanya dengan “bisa makan hari ini dan ngopi di angkringan”.
Kesimpulan: Kebahagiaan Semu?
Analisis Denny Charter menantang klaim pemerintah dengan data World Bank yang menunjukkan mayoritas penduduk Indonesia masih berada dalam kategori rentan miskin atau miskin absolut secara standar global. ”Data Harvard menangkap ‘kepuasan’ ini, padahal sejatinya itu adalah kepuasan semu akibat ketiadaan pilihan,” tegas Denny.
Diskusi ini memicu refleksi mendalam bagi publik: apakah Indonesia benar-benar bangsa yang bahagia karena sejahtera, ataukah kita hanya bangsa yang sangat ahli dalam memaklumi penderitaan?.[]
- Penulis: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Sumber: Tim/Red


Saat ini belum ada komentar