Simalakama Whoosh: Saat Janji “Haram APBN” Luntur di Meja Negosiasi
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar

Tegarnews.co.id-Jakarta, 14 Februari 2026| Di atas rel, Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) melesat hingga 350 kilometer per jam, menawarkan simbol kemajuan infrastruktur modern. Namun, di balik kecepatan itu, ada “rem mendadak” yang kini dirasakan oleh pengelola keuangan negara. Narasi lama yang dulu begitu lantang disuarakan—bahwa proyek ini murni Business-to-Business (B2B) dan tidak akan menyentuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)—kini resmi gugur.
Kepastian itu datang dari Istana. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, telah menarik garis tegas: negara akan turun tangan. Pembayaran utang proyek senilai total investasi US$7,2 miliar (sekitar Rp112 triliun) itu dipastikan akan menggunakan APBN.
“Mekanisme teknisnya masih finalisasi,” ujar Prasetyo, sebuah pernyataan yang secara efektif mengakhiri debat panjang mengenai siapa yang harus menanggung beban lonjakan biaya (cost overrun) dan cicilan pokok utang yang jatuh tempo.
Benturan di Kabinet: Menjaga Kas vs Menyelamatkan Muka
Keputusan ini tidak lahir tanpa gesekan. Di koridor pemerintahan, tercium aroma perbedaan pandangan yang tajam. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, sang penjaga gawang fiskal, sempat menyuarakan keberatan terbukanya. Bagi Bendahara Negara, mengalihkan beban utang korporasi ke pundak APBN adalah preseden berisiko, apalagi di tengah ruang fiskal yang kian ketat pada 2026.
Namun, realitas politik berkata lain. Presiden Prabowo Subianto telah memberikan jaminan solusi. Beban kewajiban utang yang mencapai angka psikologis Rp1,2 triliun per tahun dianggap terlalu berat jika dibiarkan hanya ditanggung oleh konsorsium tanpa suntikan negara. Jika gagal bayar terjadi, kredibilitas Indonesia di mata kreditur utama—China Development Bank (CDB)—menjadi taruhannya.
Danantara: Pemain Baru di Meja P*ker Negosiasi. Di tengah tarik-menarik ini, muncul peran sentral dari entitas baru: Danantara.
Dipimpin oleh Rosan Roeslani, lembaga pengelola investasi ini kini memegang kemudi negosiasi. Tugas Rosan tidak ringan. Ia harus menavigasi skema penyelamatan yang membagi “kue” tanggung jawab: Pemerintah (via APBN) akan membereskan kewajiban infrastruktur masa lalu, sementara Danantara dituntut merestrukturisasi operasional agar Whoosh bisa bernapas tanpa alat bantu di masa depan.
“Fokus kami adalah optimalisasi layanan dan restrukturisasi,” sebuah sinyal bahwa Danantara akan mencoba memeras profit dari sisi komersial dan pengembangan kawasan stasiun, sementara negara membersihkan neraca keuangannya.
Epilog: Harga Sebuah Ambisi
Peralihan skema ke APBN ini menjadi babak baru sekaligus ironi bagi sejarah transportasi Indonesia. Proyek yang awalnya dibanggakan karena tidak membebani uang rakyat, kini justru “pulang” meminta pertolongan pada kas negara.
Bagi publik, pertanyaan besarnya bukan lagi soal seberapa cepat kereta itu sampai di Bandung, melainkan seberapa lama APBN harus “mencicil tiket” dari sebuah ambisi besar yang perhitungan awalnya meleset jauh.
Whoosh kini bukan sekadar kereta cepat; ia adalah monumen peringatan bahwa dalam proyek strategis nasional, hitungan di atas kertas sering kali tak seindah realitas di lapangan.[]
- Penulis: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Sumber: Hagia Sofia


Saat ini belum ada komentar